Hotong Mulai Tergeser Beras
Hotong Mulai Tergeser Beras
Warnanya kekuning-kuningan. Wujudnya menyerupai bubur padat. Saat disantap, tidak perlu berlama-lama mengunyahnya.
Itulah nasi hotong, makanan khas masyarakat Bupolo, penduduk asli Pulau Buru, Provinsi Maluku. Makanan itu dibuat dari tanaman feten atau buru hotong (Setaria italica).
Tanaman yang bentuknya mirip alang-alang itu memiliki panjang sekitar 30 cm. Hotong biasa tumbuh di daerah beriklim tropis dan subtropis dengan curah hujan tidak terlalu besar. Di negeri ini, hanya di Buru hotong diolah menjadi makanan.
”Hanya setengah sendok nasi saya ambil, etapi rasanya seperti sudah makan nasi sebanyak empat sendok. Perut terasa langsung kenyang,” tutur Abbas (29), warga Jalan Sakura, Namlea, Buru, yang mencicipi makanan itu pekan lalu.
Malam itu, Evi Tan (49) menyiapkan nasi hotong. Dia mengukus tidak sampai seperempat kilogram biji hotong, tapi jumlah itu sudah lebih dari cukup untuk mengisi perut empat orang yang lapar. ”Kalau beras, butuh minimal satu kilogram untuk sekali makan,” katanya.
Selain nasi hotong, Evi menyajikan bubur hotong, wajik hotong, dan beraneka kue berasal dari hotong. Semuanya dia buat dengan bahan baku utama biji kering hotong, dicampur bahan lain, seperti santan, gula merah, garam, dan bahan masakan lainnya tergantung bentuk makanan yang dibuat.
”Pembuatan nasi dan wajik diajarkan orangtua saya. Pembuatan kue dari hotong baru tahun ini, setelah peneliti hotong dari Institut Pertanian Bogor (IPB) mengajarkannya kepada ibu-ibu PKK di Pulau Buru,” katar Evi.
Bagi Evi, hotong bukanlah makanan asing. Namun, bagi generasi sepantaran Abbas dan sejumlah warga di Namlea, ibu kota Kabupaten Buru, hotong tergolong makanan yang tidak terlalu diakrabi.
Ketidakakraban ini terjadi karena biji hotong atau hotong dalam bentuk makanan sulit ditemukan di pasar dan belum dijual di rumah makan mana pun.
”Pernah dengar nama hotong, tetapi belum pernah merasakannya. Cari bahan bakunya sulit. Harus ke petani langsung, itu juga harus tahu cara mengolahnya menjadi makanan,” ujar Wahyudin (32), warga Namlea.
Hotong kini memang tidak dikenal luas. Warga setempat lebih mengenal beras daripada hotong. Beras lebih mudah dicari di Buru, apalagi kabupaten ini merupakan lumbung beras Maluku.
Padi mulai banyak ditanam saat tahanan politik yang dikaitkan G30S/PKI diasingkan di pulau ini sekitar tahun 1970. Padi kian banyak sekitar tahun 1990 saat Buru menjadi lokasi transmigran asal Jawa.
Padahal, jauh sebelum padi mulai ditanam, kebutuhan karbohidrat masyarakat Bupolo dipenuhi dari hotong, selain jagung, ubi, dan padi ladang.
Hasil kajian IPB yang diperoleh dari Dinas Pertanian Kabupaten Buru menyebutkan, kandungan karbohidrat pada hotong 81,32 persen lebih tinggi daripada beras yang berkisar 70-80 persen.
Kandungan protein hotong juga lebih tinggi, mencapai 14,05 persen. Sementara beras hanya 4-5 lima persen. Hotong juga memiliki kandungan antioksidan yang dapat mencegah penyakit kanker dan diabetes.
Hotong tak sebatas sebagai makanan, tapi sudah menjadi bagian dari budaya masyarakat Bupolo. Hotong menjadi bagian utama upeti kepada raja yang ditaruh di dolang (wadah persembahan) bersama hasil bumi lainnya. Bahkan, konon, feten, nama lain hotong, diibaratkan sebagai putri karena biji pada malai (tangkai) halus dan ujung malai yang siap panen berwarna merah seperti bibir seorang putri. (A Ponco Anggoro)
Sumber: http://cetak.kompas.com/read/2010/08/30/03435263/hotong.mulai.tergeser.b...





- Google Plus One


- Facebook Like
- Log in or register to post comments


