Penganugerahan Saparinah Sadli ; Agama, Perempuan dan Perdamaian
Penganugerahan Saparinah Sadli ; Agama, Perempuan dan Perdamaian
Jakarta, 24 Agustus 2010 sejumlah tamu undangan yang terdiri dari kaum perempuan dari berbagai lembaga menghadiri acara pemberian anugerah Saparinah Sadli, bertepatan dengan ulangtahunnya yang ke 83. Penganugerahan Saparinah Sadli kali ini merupakan kali ketiga dilaksanakan. Tema yang diangkat tahun ini yaitu Agama, Perempuan dan Perdamaian. Tema yang diangkat ini berkaitan dengan pemahaman agama terhadap perempuan, pergerakan perempuan Indonesia menuju pada perdamain dan kehidupan selaras.
Penganugerahan ini merupakan bentuk kegelisahan perempuan di Indonesia, melihat penganugerahan didominasi oleh kaum pria. Penganugerahan itu merupakan surprise bagi ulang tahun Saparinah Sadli, yang digelar dimulai pada tahun 2004, 2007 dan 2010.
Anugerah Saprinah Sadli pada tahun 2004 diberikan kepada Maria ulfah Anshor atas penelitiannya di pusat kajian wanita Universitas Indonesia, yang berjudul ‘Fiqih Aborsi Alternatif untuk pengautan Hak Reproduksi Perempuan”. Pada tahun 2007 anugerah diberikan kepada Aleta Ba’un, penggiat yang melindungi sumber daya alam dari pencemaran pertambangan, serta Mutmainah Korona atas komitmen dan perbaikan kondisi perempuan di Sulawesi Tengah.
Anugerah Saparinah Sadli merupakan lambang penghargaan masyarakat sipil bagi perjuangan keadilan untuk perempuan. penganugerahan ini mengambil teladan dari ibu Saparinah dalam upaya ; membangkitkan kepedulian publik pada persoalan ketidak adilan pada perempuan. Anugerah Saparinah Sadli diberikan kepada perempuah yang memadukan kecerdasan akal, kepekaan etis, dan keteguhan hati untuk bekerja dilapangan bagi keadilan perempuan dan perdamaian kemanusiaan.
Saparinah Sadli adalah sosok perempuan yang membidani lahirnya Komisi Nasional Perempuan, pernah menjabat sebagai wakil Komas HAM, serta pendiri pusat kajian wanita Universitas Indonesia. Saparinah juga aktif menggerakkan aktivis perempuan untuk yang mendesak presiden Habibi untuk mengusut tuntas kasus kekerasan Mei 1998.
Dewan juri yang terdiri dari Sulistyo Irianto, Maria ulfah Anshor dan Rocky Gerung menyampaikan bahwa mereka telah mempelajari beberapa kandidat. Pilihan terhadap sosok penerima Saprinah Sadli antara lain, perempuan ini telah menentang diskriminasi sosio kultural terhadap para perempuan.
Untuk penghargaan tahun ini diberikan kepada Nani Zulminarni, perempuan kalahiran Ketapang 10 September 1962. Nani Zulminarni di kenal sebagai aktivis perempuan di PEKKA (Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga). Aktivitasnya di PEKKA dimulai pada tahun 2001, dimana Nani menjadi koordinator nasional. Bersama PEKKA saat ini telah mendampingi 476 organisasi perempuan ditingkat akar rumput dan menjangkau 340 desa, 60 kecamatan, 19 Kabupaten di 8 Provinsi. Meliputi Nanggro Aceh Darusalam, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Timur dan Maluku Utara.
Nani Zulminarni adalah lulusan Fakultas Perikanan, Institut Pertanian Bogor kemudian menyelesaikan magister Sociologi, North Carolina State University, USA.
Berkaitan dengan tema yang diangkat pada pembukaan acara disampaikan pemaparan dari Farha Cicik, mengenai penelitiannya selama ini tentang kekerasan berbasis agama serta perspektif perempuan dalam gerakan Islam radikalisme diberbagai sekolah. Penelitian yang dilaksanakan ini merupakan jawaban atas kegelisahan orang tua terhadap perlaku anak-anaknya yang berubah. Hal ini setelah dilakukan penelitian berkaitan dengan kegiatan ekstrakulikuler agama di sekolah. Pada kasus yang ditemukan ternyata radikalisme tumbuh subur dan difasilitasi oleh pihak sekolah. Kasus terakhir yang menggemparkan adalah kasus “pengantin” yang melibatkan Dani Dwi Permana, dimana ia direkrut untuk menjadi teroris.
Selama 12 tahun penelitian di pesantren Cicik menyampaikan dalam kelompok radikal ini saat ini perempuan di dalamnya sudah melakukan pemberontakan. Perempuan di pesantren mereka mulai bertanya karena kesewenang-wenangan terhadap perempuan disana. Hal ini menutur Cicik merupakan bentuk perkembangan kritis perempuan di pesantren radikal.
Kelompok radikal tersebut tumbuh subur karena pendekatan yang mereka lakukan, seperti ; memberikan perhatian kepada anggotanya yang sakit, kekurangan dana, mencari jodoh ataupun mengirim sms mengingatkan apakah sudah sholat atau mengirim semangat atau dorongan dengan dalil-dalil tertentu bahkan mangajak zikir bersama. Hal inilah yang membuat pemahaman radikal itu menyentuh banyak orang.
Menurut Cicik pendekatan dari kelompok radikal ini sangat dibutuhkan oleh kalangan masyarakat, hal ini yang sepertinya perlu di lakukan juga oleh kelompok-kelompok Lembaga Swadaya Masyarakat. Kehadiran Farha Cicik diafilistasi oleh Perkumpulan Bhinneka Tunggal Ika (PBTI).
Sedangkan penyelenggara Saparinah Sadli kali ini kerjasama antara PBTI, Pusat Kajian Perempuan Universitas Indonesia dan beberapa pihak atau individu yang peduli terhadap perkembangan perempuan. (agnes dwi)





- Google Plus One


- Facebook Like
- Log in or register to post comments


