Permainan Tradisional Eggrang Mulai Menggeliat
Permainan Tradisional Eggrang Mulai Menggeliat
Sabtu 7 Agustus 2010, tidak seperti biasanya kampung Ledok Ombo, Jember, Jawa Timur berubah meriah dengan kehadiran puluhan anak berpakaian nyentrik. Mulai dari pakaian daerah, pakaian perang, pakaian yang terbuat dari dedaunan, bahkan pakaian punakawan Bagong dimunculkan.
Anak-anak perempuan terlihat cantik dengan kebaya mini yang mereka kenakan, ada juga yang memakai busana tari tradional. Tak kalah dengan anak perempuan, anak lelaki pun memakai pakaian tradisional layaknya kesatria dan pahlawan masa lalu. Semangat hari kemerdekaan juga dimunculkan dari busana ala tentara dan pejuang perang, lengkap dengan bendera merah putih dan wajah yang dihias warna merah, hitam dan putih.
Kehadiran anak-anak dari berbagai daerah tersebut untuk mengikuti Festival Tanoker dalam bentuk perlombaan enggrang. Tanoker (kepompong dalam bahasa Madura) bekerjasama dengan pemerintah kecamatan Ledok Ombo, menggagas sebuah kegiatan yang membangun semangat anak-anak untuk mengenal permainan tradisonal nusantara. Bertepatan dengan peringatan hari anak Nasional serta Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 65, Tanoker mengajak setiap anak tanpa memandang suku, etnis ataupun agama untuk bergabung dalam perlombaan ini.
Kegiatan perlombaan dimulai dengan pawai eggrang mengelilingi Kecamatan Ledok Ombo. Keceriaan anak-anak yang menjadi peserta tergambar jelas diwajah mereka. Bagaimana kesulitan mereka berjalan diatas enggrang dipadu dengan busana unik mereka cukup menyajikan hiburan dan keceriaan masyarakat yang menonton.
Dalam lomba eggrang kali ini sebanyak 33 kelompok mengikuti perlombaan. Peserta lomba adalah siswa SD dan SMP dari berbagai sekolah di wilayah Ledok Ombo, serta daerah sekitarnya. Terdapat pula peserta penggembira dari berbagai wilayah seperti Jakarta, Yogyakarta, Salatiga, Malang dan Surabaya.
Koordinator Tanoker, Farha Cicik mengungkapkan tentang pilihan lokasi lomba enggrang di Ledok Ombo yaitu, perubahan itu bisa dimulai dari mana saja, termasuk dari desa seperti Ledok Ombo. Alasan lain, bahwa anak-anak peserta lomba adalah mereka yang kurang mendapat kesempatan mengikuti berbagai kegiatan diluar daerah karena kondisi mereka. Peserta lomba adalah anak-anak dari orang tuanya yang menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW), buruh, tukang ojeg, petani, guru dan buruh cuci.
Dalam Festifal Tanoker hadir pula juri dari berbagai negara antara lain; Rob Kennedy (Australia), Rosalio Sciortino (Italia), Nia Sjarifudin (ANBTI) Jakarta, Dr Rini Gunarto (Belanda), dan Prof Dr Ayu Sutarto (Budayawan Jember). Hadir pula Nina Tanjung dan Saparinah Sadli, turut memberikan dukungan terhadap kegiatan Festifal Tanoker tahun 2010.
Awal Mula Eggrang
Permainan Eggrang muncul pada awal tahun 1960an di Kota Tangerang, Jawa Barat. Awal mulanya enggrang muncul sebagai pengiring musik tradional Jawa Barat. Namun pada perkembangannya enggrang muncul diberbagai daerah dengan nama yang berbeda seperti, di wilayah Sumatera Barat dengan nama Tengkak-tengkak dari kata Tengkak (pincang), Ingkau yang dalam bahasa Bengkulu berarti sepatu bambu dan di Jawa Tengah dengan nama Jangkungan yang berasal dari nama burung berkaki panjang. Egrang sendiri berasal dari bahasa Lampung yang berarti terompah pancung yang terbuat dari bambu bulat panjang. Dalam bahasa Banjar di Kalimantan Selatan disebut batungkau.
Egrang dibuat secara sederhana dengan menggunakan dua batang bambu (lebih sering memakai bahan ini daripada kayu) yang panjangnya masing-masing sekitar 2 meter. Kemudian sekitar 50 cm dari alas bambu tersebut, bambu dilubangi lalu dimasuki bambu dengan ukuran sekitar 20-30 cm yang berfungsi sebagai pijakan kaki. Maka jadilah sebuah alat permainan yang dinamakan enggrang. Bambu yang biasa dipakai adalah bambu apus atau wulung, dan sangat jarang memakai bambu petung atau ori yang lebih besar dan mudah patah.
Wikepedia menuliskan eggrang atau jangkungan adalah galah atau tongkat yang digunakan seseorang agar bisa berdiri dalam jarak tertentu di atas tanah. Eggrang berjalan adalah egrang yang diperlengkapi dengan tangga sebagai tempat berdiri, atau tali pengikat untuk diikatkan ke kaki, untuk tujuan berjalan selama naik di atas ketinggian normal. Didataran banjir maupun pantai atau tanah labil, bangunan sering dibuat di atas jangkungan untuk melindungi agar tidak rusak oleh air, gelombang, atau tanah yang bergeser. Jangkungan telah dibuat selama ratusan tahun.
Berkaitan dengan Festifal Tanoker yang diselenggarakan tahun ini, tujuannya ingin mengajak semua anak Indonesia untuk semakin mengenal budaya bangsa, serta menjadikan permainan tradisonal makin dikenal di dunia internasional. Indonesia adalah negara yang kaya akan budaya, jadi sudah sepantasnya kita semua yang peduli ikut menjaga dan melestarikannya. (Agnes Dwi)





- Google Plus One


- Facebook Like
- Log in or register to post comments


